Data di atas
telah diperoleh dengan cara melakukan search pada SearchEngine
Citeseer.ist.psu.edu menggunakan fasilitas “Advanced Search” dengan
mencantumkan nama dosen dan Affilasi = “Gunadarma”.
Minggu, 18 Januari 2015
Kamis, 20 November 2014
Matematika Informasi : Relasi Rekursif
Barisan yang Didefinisikan Secara
Rekursif
Sebuah barisan (sequence) dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Cara pertama adalah dengan menuliskan beberapa suku pertama barisan itu, dengan harapan pembaca dapat dmengerti kelanjutan suku-suku barisan tersebut.
Misalnya, barisan 3, 5, 7, …
Cara itu sangat sederhana dan sering dilakukan. Akan tetapi, cara itu memiliki kelemahan, kadang-kadang pembaca dibuat slah mengerti terhadap kelanjutan suku-sukunya. Sebagai contoh, pada barisan 3, 5, 7, … di atas, sering diartikan bahwa pasangan tersebut adalah barisan-barisan bilangan ganjil yang lebih besar dari 2 sehingga suku-suku selanjutnya adalah 9, 11, 13, 15, … . Akan tetapi mungkin pula diartikansebagai barisan bilangan prima sehingga suku-suku selanjutnya adalah 11, 13, 17, … . Untuk sedapat mungkin menghindari salah pengertian seperti itu, suku-suku dapat dituliskan lebih panjang. Jadi, penulisan tidak hanya 3, 5, 7, …, tetapi diperpanjang menjadi 3, 5, 7, 9, 11, … (untuk menyatakan barisan bilangan ganjil yang lebih besar dari 2).
Cara kedua adalah menyatakan barisan dalam rumus eksplisit suku-sukunya. Misalnya, barisan bilangan ganjil lebih besar dari 2 dapat dinyatakan dengan rumus:
an = 2n + 1 (n bilangan bulat ≥ 1)
Dengan rumus tersebut, suku-suku setiap barisan dapat ditentukan dengan cepat. Sebagai contoh, dalam rumus an = 2n + 1 (n ≥ 1), maka :
a0 = 2.1 + 1 = 3
a1 = 2.2 + 1 = 5
a2 = 2.3 + 1 = 7 dst
Keuntungan mendefinisikan barisan dengan cara kedua adalah bahwa tiap-tiap suku barisan ditentukan secara tunggal dan penentuan suku ke-n (misal suku ke 51 = a50) dapat dilakukan secara cepat.
Cara ketiga untuk menyatakan barisan adalah secara rekursif. Suatu barisan didefinisikan secara rekursif jika kondisi awal barisan ditentukan, dan suku-suku barisan selanjutnya dinyatakan dalam hubungannya dengan sejumlah suku-suku yang sudah dinyatakan sebelumnya. Persamaan yang menyatakan hubungan antara beberapa suku tersebut dinamakan relasi rekurensi. Sebagai contoh, barisan bilangan ganjil lebih besar dari 2 yaitu 3, 5, 7, … dapat dinyatakan sebagai berikut :
Untuk semua bilangan bulat k ≥ 1,
ak = ak-1 + 2 (relasi rekurensi ) dan
a0 = 3 (kondisi awal)
Dengan relasi rekurensi dan kondisi awal, suku-suku barisan selanjutnya dapat dihitung sebagai:
a1 = a0 + 2 = 3 + 2 = 5
a2 = a1 + 2 = 5 + 2 = 7
a3 = a2 + 2 = 7 + 2 = 9
1. Diketahui : Suatu barisan c0, c1, c2, … didefinisikan secara rekursif sebagai berikut :
Untuk semua bilangan bulat k ≥ 2,
Ck = ck-1 + k ck-2 + 1
Dengan kondisi awal c0 = 1 dan c1 = 2.
Ditanya : Hitunglah c5!
Penyelesaian :
Oleh karena barisan didefinisikan secara rekursif, maka c5 tidak bisa dihitung secara langsung, tetapi harus terlebih dahulu menghitung c2, c3 dan c4.
A.c2 = c1 + 2 c0 + 1 = 2 + 2.1 + 1 = 5
c3= c2 + 3 c1 + 1 = 5 + 3.2 + 1 = 12
c4= c3 + 4 c2 + 1 = 12 + 4.5 + 1 = 33
c5= c4 + 5 c3 + 1 = 33 + 5.12 + 1 = 94
2. Diketahui
: Misalkan a1, a2, … ; b1, b2, … dan c1, c2, … adalah 3 barisan yang semua
sukunya memenuhi relasi rekurensi. Nilai suatu suku sama dengan 3 kali nilai
suku sebelumnya.
Jadi, ak = 3ak-1; bk=3bk-1; ck=3 ck-1.
Tetapi kondisi awal ketiga barisan tersebut berbeda :
a1= 0 ; b1 = 1 ; c1= 2
Ditanya : Nyatakan barisan-barisan terebut dengan cara menuliskan beberapa suku awal barisannya !
A. barisan a1 adalah :0,0,0 …
barisan b1 adalah: 3,6,9…
barisan c1 adalah: 1,6,18,…
B. barisan a1 adalah :1,1,1 …
barisan b1 adalah: 3,9,81…
barisan c1 adalah: 6,18,54…
C. barisan a1 adalah :0,1,2 …
barisan b1 adalah: 3,9,27…
barisan c1 adalah: 6,18,54…
D. Pada barisan a1, a2….
a2 = 3a1 =3.0 = 0
a3 = 3a2 = 3.0 = 0
a4 = 3a3 = 3.0 = 0
pada barisan b1, b2….
b2 = 3b1 = 3.1 = 3
b3 = 3b2 =3.3 = 9
b4 = 3b3 = 3.9 = 27
pada barisan c1, c2….
c2 = 3c1 = 3.2 = 6
c3 = 3c2 = 3.6 =18
c4 = 3c3 = 3.18 = 54
dengan demikian , barisan a1 adalah :0,0,0 …
barisan b1 adalah: 3,9,27…
barisan c1 adalah: 6,18,54…
3. Diketahui : mk = 2mk-1 + 1 untuk bilangan bulat k ≥ 2
m1 = 1
Ditanya : Carilah rumus eksplisit barisan m1 , m2 ,…yang menyatakan masalah menara Hanoi.
penyelesaian :
A. mk = 3k – 1 untuk bilangan bulat k < 1
B. mk = 2mk-1 + 1
= 2 ( 2mk-2 + 1 ) + 1 = 22 mk-2 + 2.1 + 1
= 22 ( 2mk-3 + 1 ) + 2.1 + 1 = 23 mk-3 + 22.1 + 2.1 + 1
= 23 ( 2mk-4 + 1 ) + 22.1 + 2.1 + 1 = 24 mk-4 + 23.1 + 22.1 + 2.1 + 1
= 24 ( 2mk-5 + 1 ) + 23.1 + 22.1 + 2.1 + 1 = 25 mk-5 + 24.1 + 23.1 + 22.1 + 2.1 + 1
= ……….
= 2k-1mk-(k-1) + 2k-2.1 + … + 23.1 + 22.1 + 21 + 1
= 2k-1m1 + 2k-2 + … + 23 + 22 + 21 + 1
Oleh karena m1 = 1, maka :
mk = 2k-1 + 2k-2 + 2k-3 + … + 23 + 22 + 21 + 1
mk merupakan deret geometri dengan r = 2 yang besarnya = (2^((k-1)+1)-1)/(2-1) = 2k – 1
Sebuah barisan (sequence) dapat dinyatakan dalam beberapa cara. Cara pertama adalah dengan menuliskan beberapa suku pertama barisan itu, dengan harapan pembaca dapat dmengerti kelanjutan suku-suku barisan tersebut.
Misalnya, barisan 3, 5, 7, …
Cara itu sangat sederhana dan sering dilakukan. Akan tetapi, cara itu memiliki kelemahan, kadang-kadang pembaca dibuat slah mengerti terhadap kelanjutan suku-sukunya. Sebagai contoh, pada barisan 3, 5, 7, … di atas, sering diartikan bahwa pasangan tersebut adalah barisan-barisan bilangan ganjil yang lebih besar dari 2 sehingga suku-suku selanjutnya adalah 9, 11, 13, 15, … . Akan tetapi mungkin pula diartikansebagai barisan bilangan prima sehingga suku-suku selanjutnya adalah 11, 13, 17, … . Untuk sedapat mungkin menghindari salah pengertian seperti itu, suku-suku dapat dituliskan lebih panjang. Jadi, penulisan tidak hanya 3, 5, 7, …, tetapi diperpanjang menjadi 3, 5, 7, 9, 11, … (untuk menyatakan barisan bilangan ganjil yang lebih besar dari 2).
Cara kedua adalah menyatakan barisan dalam rumus eksplisit suku-sukunya. Misalnya, barisan bilangan ganjil lebih besar dari 2 dapat dinyatakan dengan rumus:
an = 2n + 1 (n bilangan bulat ≥ 1)
Dengan rumus tersebut, suku-suku setiap barisan dapat ditentukan dengan cepat. Sebagai contoh, dalam rumus an = 2n + 1 (n ≥ 1), maka :
a0 = 2.1 + 1 = 3
a1 = 2.2 + 1 = 5
a2 = 2.3 + 1 = 7 dst
Keuntungan mendefinisikan barisan dengan cara kedua adalah bahwa tiap-tiap suku barisan ditentukan secara tunggal dan penentuan suku ke-n (misal suku ke 51 = a50) dapat dilakukan secara cepat.
Cara ketiga untuk menyatakan barisan adalah secara rekursif. Suatu barisan didefinisikan secara rekursif jika kondisi awal barisan ditentukan, dan suku-suku barisan selanjutnya dinyatakan dalam hubungannya dengan sejumlah suku-suku yang sudah dinyatakan sebelumnya. Persamaan yang menyatakan hubungan antara beberapa suku tersebut dinamakan relasi rekurensi. Sebagai contoh, barisan bilangan ganjil lebih besar dari 2 yaitu 3, 5, 7, … dapat dinyatakan sebagai berikut :
Untuk semua bilangan bulat k ≥ 1,
ak = ak-1 + 2 (relasi rekurensi ) dan
a0 = 3 (kondisi awal)
Dengan relasi rekurensi dan kondisi awal, suku-suku barisan selanjutnya dapat dihitung sebagai:
a1 = a0 + 2 = 3 + 2 = 5
a2 = a1 + 2 = 5 + 2 = 7
a3 = a2 + 2 = 7 + 2 = 9
… dst
Contoh soal :
1. Diketahui : Suatu barisan c0, c1, c2, … didefinisikan secara rekursif sebagai berikut :
Untuk semua bilangan bulat k ≥ 2,
Ck = ck-1 + k ck-2 + 1
Dengan kondisi awal c0 = 1 dan c1 = 2.
Ditanya : Hitunglah c5!
Penyelesaian :
Oleh karena barisan didefinisikan secara rekursif, maka c5 tidak bisa dihitung secara langsung, tetapi harus terlebih dahulu menghitung c2, c3 dan c4.
A.c2 = c1 + 2 c0 + 1 = 2 + 2.1 + 1 = 5
c3= c2 + 3 c1 + 1 = 5 + 3.2 + 1 = 12
c4= c3 + 4 c2 + 1 = 12 + 4.5 + 1 = 33
c5= c4 + 5 c3 + 1 = 33 + 5.12 + 1 = 94
Jadi, c5 = 94
B. c5 = 95
C. c5 = 96
D. c5= 93
Jadi, ak = 3ak-1; bk=3bk-1; ck=3 ck-1.
Tetapi kondisi awal ketiga barisan tersebut berbeda :
a1= 0 ; b1 = 1 ; c1= 2
Ditanya : Nyatakan barisan-barisan terebut dengan cara menuliskan beberapa suku awal barisannya !
A. barisan a1 adalah :0,0,0 …
barisan b1 adalah: 3,6,9…
barisan c1 adalah: 1,6,18,…
B. barisan a1 adalah :1,1,1 …
barisan b1 adalah: 3,9,81…
barisan c1 adalah: 6,18,54…
C. barisan a1 adalah :0,1,2 …
barisan b1 adalah: 3,9,27…
barisan c1 adalah: 6,18,54…
D. Pada barisan a1, a2….
a2 = 3a1 =3.0 = 0
a3 = 3a2 = 3.0 = 0
a4 = 3a3 = 3.0 = 0
pada barisan b1, b2….
b2 = 3b1 = 3.1 = 3
b3 = 3b2 =3.3 = 9
b4 = 3b3 = 3.9 = 27
pada barisan c1, c2….
c2 = 3c1 = 3.2 = 6
c3 = 3c2 = 3.6 =18
c4 = 3c3 = 3.18 = 54
dengan demikian , barisan a1 adalah :0,0,0 …
barisan b1 adalah: 3,9,27…
barisan c1 adalah: 6,18,54…
3. Diketahui : mk = 2mk-1 + 1 untuk bilangan bulat k ≥ 2
m1 = 1
Ditanya : Carilah rumus eksplisit barisan m1 , m2 ,…yang menyatakan masalah menara Hanoi.
penyelesaian :
A. mk = 3k – 1 untuk bilangan bulat k < 1
B. mk = 2mk-1 + 1
= 2 ( 2mk-2 + 1 ) + 1 = 22 mk-2 + 2.1 + 1
= 22 ( 2mk-3 + 1 ) + 2.1 + 1 = 23 mk-3 + 22.1 + 2.1 + 1
= 23 ( 2mk-4 + 1 ) + 22.1 + 2.1 + 1 = 24 mk-4 + 23.1 + 22.1 + 2.1 + 1
= 24 ( 2mk-5 + 1 ) + 23.1 + 22.1 + 2.1 + 1 = 25 mk-5 + 24.1 + 23.1 + 22.1 + 2.1 + 1
= ……….
= 2k-1mk-(k-1) + 2k-2.1 + … + 23.1 + 22.1 + 21 + 1
= 2k-1m1 + 2k-2 + … + 23 + 22 + 21 + 1
Oleh karena m1 = 1, maka :
mk = 2k-1 + 2k-2 + 2k-3 + … + 23 + 22 + 21 + 1
mk merupakan deret geometri dengan r = 2 yang besarnya = (2^((k-1)+1)-1)/(2-1) = 2k – 1
jadi, mk = 2k – 1 untuk bilangan bulat k
≥ 1
C. mk = 2k + 1 untuk bilangan bulat k
> 1
D. mk = 2k – 2 untuk bilangan bulat k ≥
2
Relasi rekursif homogen linear :
Definisi
Relasi rekursif homogen linear berderajat dua dengan koefisien
konstanta merupakan relasi rekursif yang memiliki bentuk,
Definisi I
untuk setiap bilangan bulat k ≥ bilangan bulat tertentu, di mana A
dan B merupakan suatu konstanta bilangan real, dengan B ≠ 0.
Relasi rekursif tersebut dikatakan “berderajat dua” karena ak
dinyatakan dalam dua suku sebelumnya, ak – 1 dan ak – 2, dikatakan “linear”
karena ak – 1 dan ak – 2 muncul pada suku yang berbeda dan masing-masing
memiliki pangkat satu, dikatakan “homogen” karena total derajat dari
masing-masing sukunya sama (sehingga tidak ada suku konstanta), dan “koefisien
konstanta” karena A dan B merupakan suatu konstanta yang tidak bergantung
terhadap k.
Nyatakan apakah masing-masing relasi rekursif berikut merupakan
relasi rekursif homogen linear berderajat dua dengan koefisien konstanta atau
bukan:
1. ak = (–4)ak – 1 + (k + 1)ak – 2
A. Iya; A = 1 = B.
B. Bukan; tidak linear.
C. Bukan; tidak berderajat dua.
D. Bukan; tidak homogen.
2. bk = bk – 1 + bk – 2
A. Bukan;
tidak berderajat dua.
B. Iya; A = 0
dan B = 2.
C. Bukan; tidak linear.
D. Bukan; tidak homogen.
3. ck = (ck – 1)2 + ck – 1 ∙ ck – 2
A. Bukan;
tidak berderajat dua.
B. Iya; A = 0
dan B = 2.
C. Bukan;
tidak linear.
D. Bukan;
tidak homogen.
4. dk = dk – 1 + dk – 2 + dk – 3
A. Bukan;
tidak berderajat dua.
B. Iya; A
= 0 dan B = 2.
C. Bukan;
tidak linear.
D. Bukan;
tidak homogen.
Nama kelompok :
Dilan Kusuma 52413460
Dilankusuma95.blogspot.com
Ibnu Wildan 54413182 ibnuwildann.blogspot.com
Rully Saputra 56413647 rullysaputra02.wordpress.com
Andhika Rangga P 50413890
Minggu, 02 November 2014
Tugas File Sequential
Keuntungan Sequential File :
• Merupakan organisasi file yang sederhana
• Jarak setiap aplikasi yang tersimpan sangat jelas
• Metode penyimpanan didalam memory sangat sederhana, sehingga efisien untuk menyimpan record yang besar
• Sangat murah untuk digunakan, sebab medianya cukup menggunakan magnetic tape.
• Kemampuan untuk mengakses record berikutnya secara cepat.
Kerugian Sequential File :
• Jika diperlukan perubahan data, maka seluruh record yang tersimpan didalam master file, harus semuanya diproses.
• Data yang tersimpan harus sudah urut (sorted).
• Posisi data yang tersimpan sangat susah untuk uptodate, sebab master file hanya  bisa berubah saat proses selesai dilakukan.
• Tidak bisa dilakukan pembacaan secara langsung.
Berikut adalah contoh dari file sequential :
- Inti logika dari program ini adalah sebagai berikut :
- Data dimasukkan tiap – tiap record.
- Data yang dimasukkan akan ditanyakan apakah sudah benar atau belum. Hal ini diperlukan sebagai verifikasi terhadap data yang akan direkamkan. Data yang akan direkamkan harus sudah benar.
- Setelah data yang dimasukan sudah benar, maka data tersebut akan direkamkan di file.
- Setiap selesai merekam data, akan ditanyakan apakah akan memasukkan data lagi atau tidak.
- Kalau akan memasukkan data lagi, proses diulangi lagi dari butir a.
- Kalau sudah tidak akan memasukkan data lagi, maka file ditutup dan proses selesai.
Kamis, 30 Oktober 2014
NEW MEDIA DAN KASUS
New
Media
Secara harfiah new berasal dari bahasa inggris yang berarti baru,
sedangkan kata media berasal dari bahasa latin yang memiliki arti sebagai
perantara sebuah informasi dengan penerima informasi atau media perantara. Dan secara meluas New media adalah sebuah termologi untuk menjelaskan konvergensi atara
teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam
jaringan. Pendapat ahli
mengenai New Media :
Lev
Manovich dalam pengantar Reader New Media, New Media mendefinisikan dengan
menggunakan beberapa proposisi sederhana dan ringkas:
1. Media baru versus Cyberculture -
Cyberculture adalah berbagai fenomena sosial yang berkaitan dengan internet dan
jaringan komunikasi (blog, online multi-player game), sedangkan New Media
adalah lebih peduli dengan benda-benda budaya dan paradigma (digital untuk
televisi analog, iPhone).
Beberapa dampak yang
terjadi akibat adanya New Media :
• Bidang Pendidikan.
Dengan adanya EBOOK,sangat memudahkan
mahasiswa untuk belajar dan mencari materi serta lebih praktis.
• Bidang
Pencarian Kerja
Memudahkan
seseorang untuk mengetahui lowongan pekerjaan disuatu tempat.
• Bidang Sosial
Dengan hadirnya
Facebook, Twitter, Yahoo, Blog, hal tersebut sangat membantu untuk kita
berinteraksi dengan seseorang.
• Bidang Jual
Beli
Bidang ini juga
adalah bidang yang bayak di akses orang, karena pembeli dan penjual sama” enak
, sebagai contoh adalah pembeli yang mempunyai sifat malas untuk dating ke
store” yang menjual barang yang di inginkan
dapat mengakses website strore yang memiliki barang yang di inginkan.
Kekurangan New
Media
Selain memiliki
kelebihan/manfaat, New Media juga mempunya kekurangan. Berikut ini kekurangan
dari New Media :
1. Rawan akan pencurian data, karena data
dikirimkan secara online otomatis semua orang bisa mengakses hal tersebut.
Contohnya saja hacker yang selalu saja bisa membobol privasi seseorang dan
mencuri data data pentingnya.
2. Virus, tidak dapat dipungkiri hal yang satu
ini adalah yang paling sering ditemukan. Contohnya dengan mengirimkan aplikasi
aplikasi yang tidak dikenal oleh user, ditambah dengan sikap penasaran si user
tersebut untuk mencoba aplikasi tersebut yang ternyata adalah sebuah virus
komputer.
3. Sifat malas, dengan mudahnya untuk
mengakses berbagai macam data dan informasi tentunya kita akan merasa malas
untuk berpergian, karena semua tugas, pekerjaan semua bsia diakses dan
dikerjakan secara online. Jadi hanya tinggal duduk di depan komputer dan
mengerjakan tugas -tugas tersebut dan akan lebih cepat selesai tentunya.
Perlu di garis bawahi bahwa seharusnya penggunaan new media
hanya untuk orang-orang yang bijaksana dalam memanfaatkannya.
KASUS : Manfaat New Media Dalam Pemerintahan
Dalam suatu studi kasus dapat ditemukan bahwa E-gov merupakan bentuk dari NewMedia terkini. Berikut adalah uraiannya :
Perkembangan teknologi komunikasi khusus nya internet sebagai suatu bentuk new media tidak dapat dielakkan lagi. Terutama sejak ditemukannya website. Perkembangan internet berdampak besar terhadap semua lini kehidupan. Humas yang pada awalnya hanya bekerja menggunakan media konvensional di tuntut untuk dapat bekerja dengan internet. Penggunaan internet sebagai media kehumasan dikenal dengan istilah electronic public relations atau cyber pr. Sedangkan dalam pemerintahan, pemanfaatan internet oleh pemerintah dikenal dengan nama electronic governance (e-gov). E-gov merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah untuk dapat membantu mewujudkan tata kelola pemerinatahan yang baik (good governance). Salah satu nya melalui pemanfaatan website. Dimana setiap instansi pemerintahan baik pusat dan daerah diwajibkan memiliki website atau portal masing-masing. Untuk itu, maka dipilih website pemerintah provinsi Sumatera Barat, www.sumbarprov.go.id, yang merupakan website pemerintahan daerah yang dikelola langsung oleh humas pemerintah sejak tahun 2008. Dalam rancangan strategi Biro Humas dan Protokol pemerintah provinsi Sumatera Barat menempatkan membantu mewujudkan good governance sebagai misi pertama. Maka penelitian ini ingin melihat bagaimana humas pemerintah dalam memanfaatkan website pemerintah untuk membantu mewujudkan good governance di Sumbar? Berdasarkan hasil penelitian, humas pemerintah Sumbar terkendala pada Sumber Daya Manusia yang masih terbatas dari segi kemmapuan penguasaan teknologi komunikasi serta pengemasan informasi melalui media online. Pemanfaatan website pemerintah Sumbar belum bisa dikatakan dapat mewujudkan good governance, namun masih dalam proses menuju. Dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik harus ada sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Humas sebagai ujung tombah kesuksesan dan kegagalan organisasi harus dapat merangkul ketiga aspek tersebut dengan pemanfaatan website sehingga tata kelola peerintah yang diharapkan dapat terwujud.
Source : http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=54755&obyek_id=4
KASUS : Manfaat New Media Dalam Pemerintahan
Dalam suatu studi kasus dapat ditemukan bahwa E-gov merupakan bentuk dari NewMedia terkini. Berikut adalah uraiannya :
Perkembangan teknologi komunikasi khusus nya internet sebagai suatu bentuk new media tidak dapat dielakkan lagi. Terutama sejak ditemukannya website. Perkembangan internet berdampak besar terhadap semua lini kehidupan. Humas yang pada awalnya hanya bekerja menggunakan media konvensional di tuntut untuk dapat bekerja dengan internet. Penggunaan internet sebagai media kehumasan dikenal dengan istilah electronic public relations atau cyber pr. Sedangkan dalam pemerintahan, pemanfaatan internet oleh pemerintah dikenal dengan nama electronic governance (e-gov). E-gov merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah untuk dapat membantu mewujudkan tata kelola pemerinatahan yang baik (good governance). Salah satu nya melalui pemanfaatan website. Dimana setiap instansi pemerintahan baik pusat dan daerah diwajibkan memiliki website atau portal masing-masing. Untuk itu, maka dipilih website pemerintah provinsi Sumatera Barat, www.sumbarprov.go.id, yang merupakan website pemerintahan daerah yang dikelola langsung oleh humas pemerintah sejak tahun 2008. Dalam rancangan strategi Biro Humas dan Protokol pemerintah provinsi Sumatera Barat menempatkan membantu mewujudkan good governance sebagai misi pertama. Maka penelitian ini ingin melihat bagaimana humas pemerintah dalam memanfaatkan website pemerintah untuk membantu mewujudkan good governance di Sumbar? Berdasarkan hasil penelitian, humas pemerintah Sumbar terkendala pada Sumber Daya Manusia yang masih terbatas dari segi kemmapuan penguasaan teknologi komunikasi serta pengemasan informasi melalui media online. Pemanfaatan website pemerintah Sumbar belum bisa dikatakan dapat mewujudkan good governance, namun masih dalam proses menuju. Dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik harus ada sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Humas sebagai ujung tombah kesuksesan dan kegagalan organisasi harus dapat merangkul ketiga aspek tersebut dengan pemanfaatan website sehingga tata kelola peerintah yang diharapkan dapat terwujud.
Source : http://etd.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=54755&obyek_id=4
Sabtu, 25 Oktober 2014
D. Pembentukan Lebih Lanjut
Yang dimaksud pembentukan lebih lanjut ialah pembentukan kata turunan melalui proses morfologi bahasa Indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasamya. Dalam kaitannya dengan unsur serapan, pembicaraan hanya menyangkut pengimbuhan, karena dalam pengulangan dan pemajemukan tidak ada yang perlu dibicarakan. Kata-kata yang diawali oleh konsonan hambatan tak bersuara lpl,/tl,/kl, dan geseran apiko-alveolar Isl jika mendapat awalan meng- atau peng- fonem tersebut hilang atau luluh, contohnya: pukul menjadi memukul dan pemukul, tolong menjadi menolong dan penolong, karang menjadi mengarang dan pengarang, susun menjadi menyusun dan penyusun.
Kata-kata serapan
yang diawali dengan konsonan hambatan
bilabial tak bersuara /p/ contohnya:
paket, parker, potret,
piket. Jika mendapat
awalan meng- dan peng- atau
peng-an, kata-kata tersebut menjadi
memaketkan, memarkir, memotret, dan memiketi; pemaketan,
pemarkiran, pemotretan, pemiketan. Jadi kata-kata serapan tersebut diperlakukan sama dengan kata-kata
dalam bahasa Indonesia yang lain.
Kata-kata serapan yang diawali dengan
konsonan hambatan apiko dental
tak
bersuara It/ contohnya: target, teror.
Apabila dibentuk dengan awalan meng- menjadi menargetkan atau
mentargetkan; meneror
atau menteror. Jika dibentuk
denganpeng-an menjadi;penargetan atau pentargetan, peneroran atau penteroran,.
Agar dapat dibentuk
sesuai dengan kaidah morfofonemik yang berlaku, kata asing yang kemudian menjadi
kata dasar itu harus sudah dikenal dengan baik. Oleh karena itu, untuk kata-kata yang belum dikenal,
bukan saja konsonan
awalnya tidak mengalami
peluluhan, melainkan juga diberi
tanda hubung untuk mempertegas
batas
antara kata
dasar.
Konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dulu disesuaikan dengan system fonologi
bahasa Indonesia menjadi /p/. Yang sudah disesuaikan menjadi /p/ mengalami
penghilangan atau luluh, sedang apabila
tetap /f/ mendapat
sengauan yang homorgan, yaitu
/ml. Contohnya: pikir menjadi memikirkan dan pemikiran; fitnah menjadi memfitnah danpemfitnahan.
Konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /kl yang mengalami
kata-kata
katrol, dan keker luluh
apabila mendapat awalan meng- atau konfiks
peng-an seperti terlihat pada: mengatrol
dan pengatrolan, dan pengontakan, mengonsep danpengonsepan, mengekerdanpengekeran.
Seperti halnya
pada unsur serapan
yang lain, kata-kata yang masih terasa asing mendapat
perlakuan yang berbeda,
contohnya pada kata "sinkrun" dan "sistematis",jika mendapat
awalan meng- danpeng-an menjadi mensinkrunkan dan pensinkrunan, mensistematiskan
danpensistematisan.
Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan
/pr/ seperti pada prates, program, produksi,
dan praktik, jika mendapat
awalan meng- Ip/ tidak luluh menjadi:
memprotes, memprogram, memproduksi, dan
mempraktikkan. Tetapi apabila mendapat konfiks
peng-an /p/-nya luluh menjadi:
pemrotesan, pemrograman, pemroduksian,
dan pemraktikan. Ini bukan perlakuan yang istimewa untuk unsur-unsur serapkan
sebab hal yang demikian itu kita lihat
juga pada bentukan memperkirakan. Memprihatinkan. kata-kata serapan yang diawali dengan
gugus konsonan /tr/, /st/, /ski, /sp/,
/pl/,
/kl/, konsonan yang awalnya tidak pemah mengalami peleburan, baik dalam pembentukan dengan awalan meng-, peng-,
maupun
konfiks peng-an, contohnya: mentraktir, pentraktir, menstabilkan,.
Kata-kata serapan yang diawali
oleh gugus konsonan
yang terjadi atas tiga fonem dan fonem yang pertama berupa
hambatan, sudah tentu konsonan pertamanya
tidak pemah lebur apabila mendapat
awalan meng- ataupeng-.
Kata-kata serapan itu tentu saja juga dapat mengalami
proses pengulangan
seperti
pada: traktor-traktor, computer-komputer dan sebagainya. Kata-kata serapan
tidak dapat mengalami perulangan sebagian
yang berupa dwipurwa atau dwiwasana. Pada pengulangan dengan awalan konsonan awal pada suku ulangannya juga tidak luluh, contohnya: mempraktis-praktisan, mengkritik-kritik, menstabil-stabilkan.
Rabu, 15 Oktober 2014
NAMA : DILAN KUSUMA
NPM : 52413460
KELAS : 2IA14
BAB III
UCAPAN DAN EJAAN
PENERAPAN
KAIDAH EJAAN
Ejaan itu sendiri adalah penggambaran
bunyi bahasa (kata, kalimat, dsb) dengan kaidah tulisan (huruf) yang
distandardisasikan dan mempunyai makna. . Secara teknis, ejaan
adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.Dan juga
merupakan
peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antar hubungan
antara lambang-lambang itu
Dalam bahasa indonesia ada istilah EYD yaitu Ejaan Yang
Disempurnakan adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972.
Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi. Pada tahun
1987 terjadi revisi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan
"Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan". Keputusan
menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975.
Berikut adalah hal yang paling terlihat dalam perubahan
yang terjadi pada EYD hingga sekarang :
"j" menjadi "y" : sajang → sayang
"tj" menjadi "c" : tjutji → cuci
"ch" menjadi "kh": achir → akhir
"nj" menjadi "ny" : njamuk → nyamuk
"dj" menjadi "j": djarak → jarak
"sj" menjadi "sy" : sjarat → syarat
Adapun kebijakan baru yang ditetapkan pada EYD :
Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari
bahasa asing diresmikan pemakaiannya.
Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu
pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata furqan, dan xenon.
Awalan "di-" dan kata depan "di"
dibedakan penulisannya. Kata depan "di" pada contoh di rumah, di
sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara "di-" pada
dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya.
Angka dua tidak digunakan sebagai penanda perulangan
PENULISAN HURUF BESAR / HURUF KAPITAL :
1.
Huruf kapital di pakai sebagai huruf pertama pada awal
kalimat.
Contoh :
Pagi ini Ayah
sedang pergi ke kantor.
2.
Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh :
“Apakah benar
disini tempatnya?” kata Dilan
3.
Huruf kapital di
pakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan,
nama agama, dan kitab suci; termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh :
Atas berkat
rahmat Tuhan yang Maha Esa
4.
Huruf kapital di
pakai sebagai huruf pertama unsur nama, jabatan, pangkat yang diikuti nama
orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi,
atau nama tempat.
Contoh :
Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono
5.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur
nama orang.
Contoh:
Drs. Dilan
Kusuma
6.
Huruf kapital di
pakai sebagai huruf pertama nama bangsa , suku bangsa dan bahasa.
Contoh:
bangsa
Indonesia
7.
Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.
Contoh :
Duapuluh
Januari Pamulang
8.
Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Contoh:
Tangerang
Selatan
9.
Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama nama negara, lembaga pemerintahan,
ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata dan.
Contoh :
Undang-Undang
Dasar 1945
10.
Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama semua kata , di dalam nama buku, majalah, surat
kabar, dan judul karangan kecuali kata di, dari, pada, yang, untuk, yang tidak
pada posisi awal kalimat.
Contoh :
Ayah
berlangganan majalah Panjebar Semangat .
11.
Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama nama gelar, pangkat dan sapaan .
Contoh :
Dr. Dilan
Kusuma, Mpd.
12.
Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak,
ibu, saudara, kakak, adik, paman dan bibi yang dipakai dalam penyapaan dan
pengacuan.
Contoh :
Laporan
Saudara akan kami selidiki.
13.
Huruf kapital
dipakai sebagai huruf pertama kata ganti anda.
Contoh:
Apakah surat
saya sudah Anda terima?
Huruf Miring
1. Huruf
miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat
kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
Saya belum pernah membaca buku Negarakertagama karangan Prapanca.
Majalah Bahasa dan
Sastra diterbitkan oleh Pusat Bahasa.
2. Huruf
miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian
kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
Bab ini tidak
membicarakan pemakaian huruf kapital.
3. a. Huruf miring dalam cetakan dipakai
untuk menuliskan kata atau ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.
Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
b. Ungkapan
asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia penulisannya diperlakukan
sebagai kata Indonesia.
Misalnya:
Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.
Huruf Tebal
1. Huruf
tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab, bagian bab,
daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.
Misalnya:
Judul Buku : HABIS
GELAP TERBITLAH TERANG
2. Huruf
tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf,
bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk keperluan itu digunakan huruf
miring.
Misalnya:
Gabungan kata kerja
sama ditulis terpisah.
Seharusnya ditulis dengan huruf miring:
Gabungan kata kerja
sama ditulis terpisah.
Penulisan Partikel dan Awalan
Ada kata atau awalan yang harus ditulis serangkai, yaitu
adi- misalnya pada adidaya, adikuasa, adimarga, adibusana. Juga awalan awa-
pada awabau, awaair, awawarna, awasuara.
Kata antara ditulis terpisah, tetapi antar- ditulis
serangkai. Contoh: antarkota, antarpulau, antarnegara, antarbangsa.
Kata maha apabila dirangkai dengan kata dasar ditulis
serangkai. Contoh: mahasiswa, mahaguru, Mahakuasa, Mahaadil. Tetapi apabila
dirangkai dengan kata bentukan tidak dirangkaikan. Contoh: Maha Pemurah, Maha
Mengetahui, Maha Pengampun. Yang dikecualikan dari ketentuan di atas ialah kata
Maha esa yang meskipun kata maha itu dirangkai dengan kata dasar, tetapi harus
dipisah. Ejaan yang betul menurut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
ialah Tuhan Yang Maha Esa.
Penulisan Bilangan
Pedoman EYD
menetapkan empat jenis penulisan angka,
Pertama, angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan
atau nomor. Dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Kedua, angka digunakan untuk menyatakan :
(1) ukuran panjang, berat, luas, dan isi,
(2) satuan waktu,
(3) nilai uang, dan
(4) kuanitas.
Ketiga, angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor
jalan, rumah, aparteman, atau kamar pada alamat.
Keempat, angka digunakan juga untuk menomori bagian
karangan dan ayat kitab suci.
Dari delapan jenis penulisan bilangan yang diatur dalam
Pedoman EYD, empat diantaranya perlu dibahas disini. Ini mengingat apa yang
dibolehkan dalam Pedoman EYD, belum tentu dibolehkan pula dalam bahsa
jurnalistik.
a. Penulisan
lambang bilangan satu-dua kata
Pedoman EYD menetapkan, penulisan lambang bilangan yang
dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika
beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan
pemaparan.
b. Penulisan
lambang bilangan awal kalimat
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat
dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
c. Penulisan
lambang bilangan utuh
Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat
dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Ketentuan dalam Pedoman EYD ini
sangat sejalan dengan kaidah bahasa jurnalistik yang senantiasa menuntut
kesederhanaan dan kemudahan.
d. Penulisan
lambang bilangan angka-huruf
Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf
sekaligus dalam teks kecuali didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
(ash3).com
Tanda Baca
Tanda Titik (. )
a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat
yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya: Ayahku
tinggal di Solo.
Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Misalnya: A. S. Kramawijaya
Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan
sapaan
Misalnya: Dr. (Doktor)
Tanda Koma ( , )
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau
pembilangan.
Misalnya: Saya membeli
kertas, pena, dan tinta.
Tanda Titik Koma (;
)
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagianbagian kalimat yang
sejenis dan setara.
Misalnya: Malam
makin larut; kami belum selesai juga.
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di
dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik
menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan
siaran pilihan pendengar.
Tanda Titik Dua ( :
)
Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti
rangkaian atau pemerian.
Misalnva: Yang kita
perlukan sekarang ialah barang yang berikut: kursi, meja, dan lemari.
Fakultas itu
mempunyai dua jurusan: Ekonorni Umum dan Ekonomi Perusahaan.
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan
pemerian.
Misalnya: a.
Ketua : Ahmad Wijaya
Tanda Hubung ( – )
Tanda hubung
menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya: …ada cara ba-ru juga.
Tanda Pisah ( – )
Tanda pisah
membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan
khusus di luar
bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu -saya yakin akan tercapai- diperjuangkan oleh bangsa itu
sendiri.
Tanda Elipsis ( … )
Tanda elipsis
menggambarkan kalimat yang terputus-putus.
Misalnya: Kalau
begitu … ya, marilah kita bergerak.
Tanda Tanya ( ? )
Tanda tanya dipakai
pada akhir kalimat tanya
Misalnya: Kapan ia
berangkat?
Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai
sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang
menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
Misalnya: Masakan!
Sampai hati juga ia meninggalkan anak- istrinya!
Tanda Kurung ( )
Tanda kurung
mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya: DIP (Daftar
Isian Proyek) kantor itu sudah selesai.
Tanda Kurung Siku
([... ])
Tanda kurung siku
mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada
kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu jadi isyarat
bahwa kesalahan itu memang terdapat di dalam naskah asal.
Misalnya: Sang
Sapurba men[d] engar bunyi gemerisik.
Tanda Petik (“… “)
Tanda petik
mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan
tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas
baris.
Misalnya: “Sudah siap?” tanya Awal.
“Saya belum siap,”
seru Mira, “tunggu sebentar!”
Tanda Petik Tunggal
( ‘ … ‘ )
Tanda petik tunggal
mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Misalnya: Tanya Basri, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’
tadi?”
Langganan:
Postingan (Atom)




